Wewangian Aroma Kopi Semerbak di Sipinsur


HUMBANG HASUNDUTAN

   Kabut tebal masih menyelimuti pengunungan Sipinsur. Hempasan dedaunan pohon pinus berbentuk  jarum turut serta genapi cuaca dingin. Ketika ratusan penyaji kopi dari berbagai komunitas barista mulai beraksi, didataran tinggi Desa Pearung, Kecamatan Parangian, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).  Meski menggigil, namun para barista tetap melakukan tugasnya. Menyeduh kopi terbaik dari berbagai penjuru nusantara. Kopi tersebut disajikan dengan berbagai bentuk, mulai dari penyajian tubru, V60, ekspreso dan late art. Semua penyajian itu dilakukan untuk dinikmati para pengunjung yang berada di ketinggian sekitar 1500 diatas permukaan laut tersebut.

   Salah satu komunitas barista yang paling banyak di kerumuni pengunjung adalah komunitas barista dari Masyarakat Pemerhati Kopi Arabika Sumatera Lintong (Maspekal). Komunitas yang dipimpin oleh Abdul Gani Silaban ini memberikan ribuan cangkir kopi kepada pengunjung. Maspekal memamfaatkan kegiatan bertajuk Coffee Fest Toba menjadi salah satu ajang untuk mengenal dan mempromosikan kopi. Festival Kopi yang diselenggarakan mulai tanggal 2 sampai dengan 3 Nopember 2017 dinilai Gani sangat baik untuk memajukan kopi Danau Toba, khususnya Arabika Lintong yang saat ini banyak di ekspor ke berbagai penjuru dunia.

   Secara khusus, Gani mengatakan bahwa meengenal dan memperkenalkan kopi tidak mudah. Karena ketika ingin memperkenalkan kopi maka kita harus mengenal riwat kopi tersebut. Termasuk asal usul kopi serta proses penyajiaannya. Contohnya Kopi Arabika Lintong merupakan kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi Danau Toba. Habitat kopi ini berkembang di tanah bekas letusan gunung toba ratusan ribu tahun silam. Sehingga kondisi kultur  tanah yang merupakan bagian dari geopark kaldera toba tersebut mempengaruhi pada rasa dan aroma. Demikian juga dengan proses penyajiaan yang sangat mempengaruhi kwalitas kopi.

Selain itu, menurut Gani ajang yang diselenggarakan selama dua hari tersebut bukan hanya memperkenalkan kopi. Namun juga memberikan ruang bagi para barista untuk berkompetisi melakukan atraksi kopi. Karena dalam kegiatan tersebut juga diselenggarakan kompetisi V60 dan Latte Art oleh 50 peserta barista. Peserta yang hadir bukan hanya dari Medan, melainkan ada dari Gorontalo, Bogor, Jakarta, Manado, dan berbagai daerah lainnya. Kompetisi penyisihan dan semifinal V60 dan Latte Art ini membuat para pengunjung tidak bisa melepaskan matanya melihat teknik-teknik barista menyeduh kopi. Para kontestan terlihat sangat serius dan bersemangat mengikuti kompetisi ini.

Sembari kompetisi berlangsung, di area festival terdapat banyak booth-booth pameran produk komoditas kopi dari berba

gai kabupaten penghasil kopi Sumatera Utara, komunitas kopi, serta booth kuliner. Sembari berkeliling menikmati pasar komunitas, pengunjung dapat menikmati kopi gratis yang dibagikan di area festival.

   Penyelenggara kegiatan dari komunitas Horas Halak Hita (H3) juga menyelenggarakan Workshop Kopi dengan lima topik pilihan yang diikuti sangat antusias oleh pengunjung. Mulai dari regulasi peningkatan usaha kopi, pemasaran komoditas kopi, kisah sukses usaha kopi, sampai dengan dukungan permodalan bagi usaha kopi dikupas tuntas pada workshop ini.

   Ketua pelaksana Coffee Fest Toba, Eddy Panggabean kepada media mengatakan sangat bangga dengan potensi kopi Sumatera Utara. “Kami berharap melalui festival ini, khususnya workshop yang kemarin kita adakan dapat semakin mendorong petani kopi untuk mengembangkan kualitas kopinya, pemerintah juga bisa semakin menaruh perhatian dan  mendukung komoditi kopi,” jelasnya.

Yang uniknya, pengunjung pada festival ini bisa ikut serta mengunjungi kebun kopi yang terletak dekat Taman Wisata Sipinsur. Disana pengunjung tidak hanya datang melainkan juga dijelaskan seluk-beluk tentang kopi oleh pemandu acara.